Thursday, 3 May 2012

Pengorbanan PRIA yang Kadang Tidak disadari WANITA


Kehidupan selalu memberi kita pilihan, baik-buruk, benar-salah, kaya-miskin, cakep-jelek. dibalik itu semua Tuhan sudah memberikan masing-masing kekurangan dan kelebihan. satu hal yang dilakukan seseorang dengan kekurangannya adalah berusaha semaksimal mungkin untuk cukup dan bisa. berikut adalah contoh kecil tentang pengorbanan seorang PRIA yang kadang tidak diketahui WANITA :

1. Seorang anak laki – laki, dengan uang jajan seadanya.. diberi orang tua nya agar bisa makan di kantin sekolah, atau ongkos transportasi ke sekolah.. Kalian merasa dia akan menggunakan semua uang jajannya?  

Dia selalu menabung untukmu selama tiap hari, menahan lapar, menahan segala ajakan teman untuk pergi bermain dan berharap cukup untuk mengajakmu pergi jalan – jalan di hari minggu nanti.., mungkin hanya sekedar nonton atau pergi makan… Lalu ketika hari minggu yang dimaksud, engkau jawab : ” Duh,.. sori ni kayaknya aku gak bisa pegi sama kamu hari ini soalnya diajakin keluarga pegi… maaf “ Dah, kamu dah sukses menghancurkan perasaan, pengorbanan tu anak laki – laki.. Mungkin mereka tak pernah menangis, atau pun curhat sama temannya, karna mereka itu jantan! Mereka selalu menyimpan perasaannya seorang diri.

2. Ketika beranjak dewasa, para wanita cantik hanya akan pergi sama cowo yang punya kendaraan roda 4.
Ketika pria harus bersaing untuk mendapatkan dirimu, mereka akan lebih berhemat mati2an agar bisa mengajak mu untuk berkencan..
Ketika engkau mau d ajak pergi, dan kaget untuk pertama kali engkau dijemput memakai motor..

Lalu engkau menjawab
” duh rambut gw rusak nih,…”
” duh, siang bolong gini kamu ngajakin aku pergi… panas tau “
” duhhhh, debu, panas… laen kali aja deh ya ? “
mungkin engkau tidak sadar mengatakannya,.. tapi percaya lah.. hati mereka sakit..

3. Ketika sudah berkeluarga,… anda tau? mereka kerja banting tulang seharian penuh untuk mencukupi kalian makan.

tau pepatah ini gak?
” Seorang ayah makan telur ayam, sedangkan anak istrinya makan daging ayam “
Di benak seorang ayah, asalkan anak istrinya bahagia itu udah cukup,..
kalo perlu gak makan, ato sekedar makan mi instan, asalkan anak istri bisa makan dia uda senang,.. jangan suka menyia2kan uang hasil kerja keras suami mu itu..

4. Ketika punya anak, sudah meranjak dewasa.. dia kesulitan untuk membiayai keluarganya,.. tapi ada satu hal yang harus kalian tau.

” Mau ayah / suami mu seorang perampok, pencuri, penjudi atau kriminal lainnya,.. ketika uang itu diberikan pada mu,.. dia ikhlas memberikannya padamu, dan RELA MENANGGUNG DOSA UNTUK MU “
»»  Continue Read . . . . .

Ter'Untukmu Cintaku Yang Jauh


Sekali waktu
Aku tahu kau tak memahamiku
Sekali waktu
Aku tahu kau tak mampu mengerti aku
Sekali waktu kau tak mempercayaiku
Sekali waktu kau meragukanku

Tapi bagaimana aku memberitahumu
Betapa beberapa hari ini kau kian memikat hatiku
Betapa kau menahanku untuk tak beranjak mendamba yang lain
Kau sudah dihatiku
Sudah pula di ingatanku
Tapi apa dayaku ???
Kalau saja aku bisa memberitahukan padamu
Betapa aku benar jatuh cinta padamu

Saat aku kau panggil sayank
Saat aku kau bawa jauh ke duniamu
Detik itu aku jatuh cinta
Tapi apa dayaku ??

Nanti . . . Tetaplah bersamaku
Dan akan aku beritahu'mu . . . Tentang seberapa lekat kau di hatiku
Nanti . . . Tetaplah mengasihiku
Dan aku akan buktikan padamu, aku jauh lebih menyayangimu
"Biar sepenat rindu basah di kalbu jiwaku
Biar setitik cinta perlahan bersamaku
Untuk menantimu . . . menantimu . . . dan menjumpaimu"
»»  Continue Read . . . . .

Tuesday, 1 May 2012

Celine Leduc : Hanya Satu Kebenaran Yakni Islam


Celine Leduc: Hanya Satu Kebenaran Yakni Islam
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, MONTREAL -- Celine Leduc butuh waktu puluhan tahun untuk menemukan Islam. Ia telusuri kebenaran itu dengan mempelajari seluruh agama di dunia. Namun, hanya satu kebenaran yang ia dapat, yakni kebenaran dalam Islam.

"Aku lahir dan besar dalam keluarga Katholik. Namun, aku tidak setuju bahwa Yesus adalah anak Allaha atau ia adalah seorang Tuhan. Aku malah menyimpulkan Yesus tak ubahnya seorang Rabbi, karena ia seorang Yahudi yang belajar dan memiliki guru," kata dia.

Sebabnya, Celine mendalami agama Yahudi dengan mengkaji lebih dalam kitab suci Taurat. Ia pelajari hukum Koshier, bagaimana cara memasak dan mempelajari aturan sebagai seorang wanita. "Meski Yahudi bukanlah jawaban atas kebenaran yang saya cari. Namun, konsep pemahamanku tentang ketuhanan, aku dapat dari agama ini," kenang dia.

Celine mengakui konsep ketuhanan Yahudi diterima logika. Mereka mendeskripsikan Tuhan sebagai sosok yang tidak terlihat dan tidak diketahui. Namun, dirinya tidak mengerti ajaran Yahudi meski konsep kesetaraan laki-laki dan perempuan diatur dengan jelas. "Sebabnya, aku menghormati mereka meski tidak dengan metode yang mereka pakai," kata dia.

Pada 1990 silam, pencarian Celine terus berlanjut. Saat itu, terjadi peperangan antara Kanada dengan Indian. Celine mendampingi warga Indian selama lima tahun. Saat peristiwa itu terjadi, Celine seolah diberikan dua pilihan yakni jalan Tuhan atau Manusia. "Saya pun membuat komitmen untuk memilih jalan Tuhan. Aku akan melayani-Nya dan menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk menyebarkan pesan-pesan kebenaran," kata dia.

Komitmen itu selanjutnya tertanam dalam diri Celine. Dalam pergaulannya yang luas, dimana ia sering bertemu dengan orang Yahudi, Kristen dan Islam. Celine secara tidak sadar berada di jalur yang benar menuju Islam. Ketika Celine, berusia 25 tahun, ia jatuh cinta dengan seorang pemuda Yahudi di Irak.

Tak lama, terjadi perang antara Israel dan Lebanon. Saat itu, ia mengikat janji pernikahan dengan kekasihnya itu. Sayangnya, pemuda yang ia cintai tewas. Selama bertahun-tahun, rasa sakit terpendam dalam dirinya. Saat itulah, Celine bertemu dengan seorang perempuan asal Lebanon. Ia seorang Muslim.

"Kami akrab. Banyak hal yang kami ceritakan. Ia pun berkaca-kaca mendengar kisahku ini. Semenjak itu, ia membantu saya menyembuhkan hati yang sakit," kisahnya.

Pada 1995, ada kontroversi di Montreal terkait larangan mengenakan jilbab. Celine memutuskan untuk mendokumentasikan kejadian ini. Berbekal pengalaman menjadi penyiar radio selama empat tahun, Celine mencari narasumber terkait masalah pelarangan tersebut. Ia pun bertemu dengan narasumber seorang perempuan yang ramah dan baik hati. Perempuan itu berasal dari Irak. Saat itulah, perempuan Irak tersebut memaparkan bagaimana pentingnya jilbab dan arti jilbab baginya.

"Yang mengejutkanku adalah komitmen perempuan ini kepada Allah begitu besar. Aku sangat terkesan dengan kejujuran dan kebaikan hatinya," ungkap dia.

"Ia dengan ramah menjelaskan kepadaku apa itu Islam. Lalu ia paparkan konsep 'Tiada Tuhan Selain Allah, Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah'. Ia juga menceritakan tentang Yesus dan ibunya Maryam. Yang membuatku heran, bagaimana ia tahu soal itu," kata dia heran.

Selama sebulan, Celine terus berinteraksi dengan perempuan itu. Pemahamannya tentang Islam maju pesat. Tanpa sadar fondasi keislaman Celine mulai terbentuk pula. Hingga pada akhirnya, Celine mengucapakan dua kalimat syahadat dihadapan sahabatnya itu. "Alhamdulillah, aku menemukan apa yang dicari selama ini. Pencarian tentang kebenaran hakiki," tuntas dia.



Redaktur: Karta Raharja Ucu
Reporter: Agung Sasongko
»»  Continue Read . . . . .

Jeffrey Lang : Takjub dengan Alquran, Profesor Matematika itu Memeluk Islam


Jeffrey Lang: Takjub dengan Alquran, Profesor Matematika itu Memeluk Islam
Jeffrey Lang

Sikap kritisnya terhadap logika keberadaan Tuhan membawanyanya pada atheisme di usia remaja. Namun, kekalahan logikanya oleh Alquran sepuluh tahun kemudian membimbing profesor Matematika ini pada Islam, agama yang pernah hadir dalam mimpinya.

                                                                          ***

"Ayah, apakah surga itu benar-benar ada?" Jeffrey Lang kecil bertanya kepada ayahnya saat berjalan-jalan bersama anjing peliharaannya di pantai, sekitar 50 tahun lalu.

Kini, Jeffrey adalah seorang profesor Matematika yang memperoleh gelar master dan doktor dari Purdue University, West Lafayette, Indiana pada 1981. Pertanyaan yang pernah dilontarkannya saat masih kanak-kanak itu kini terjawab sudah. Dosen dan peneliti di Universitas Kansas Amerika Serikat ini menemukannya dalam Islam, 32 tahun lalu.

Lahir pada 30 Januari 1954 di Bridgeport, Connecticut, Jeffrey dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan Katolik Roma. Selama 18 tahun pertama dalam hidupnya, ia belajar di sekolah-sekolah Katolik, di mana ia bertemu pendeta dan teman-teman dari latar belakang agama yang sama.

Hidup di lingkungan Katolik tak begitu saja menjadikan Jeffrey seorang pemeluk agama yang taat. Sikap kritis yang dimilikinya sejak kecil justru menjauhkannya dari agama keluarganya itu. Diskusi-diskusi yang dibangunnya dengan orang tua, pendeta sekolah, dan teman-teman sekolahnya tak pernah berhasil menjawab pertanyaannya tentang keberadaan Tuhan.

“Pada masa itu, aku sudah mulai banyak bertanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik secara politik, sosial, maupun keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan untuk memperdebatkan hal itu, termasuk dengan pemuka gereja Katolik,’’ tulisnya dalam salah satu buku tentang perjalanannya menemukan Islam.

Menjelang kelulusannya dari sekolah Notre Dam Boys High, saat usianya 18 tahun, Jeffrey merasa kebuntuan logika tentang Tuhan hanya menyisakan satu pilihan baginya; menjadi atheis. Sang ayah yang marah dengan pilihan Jeffrey berkata, "Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey."

Ucapan ayahnya benar-benar terjadi. Jeffrey tertunduk dan bersimpuh di hadapan Tuhan pada suatu malam, dalam sebuah mimpi.

Dalam mimpinya, Jeffrey berada di dalam sebuah ruangan kecil yang tenang dan hening. “Tak ada perabot apapun, tidak juga hiasan apapun di dindingnya yang berwarna putih keabuan. Hanya ada karpet bermotif dengan warna dominan merah dan putih menutupi lantai ruangan,” katanya.

Jeffrey menambahkan, dirinya tak sendiri di dalam ruangan itu. Ia dan beberapa orang lainnya berada dalam beberapa barisan. “Aku ada di barisan ketiga. Tak ada perempuan di sana, hanya laki-laki. Kami semua duduk di atas tumit-tumit kami, menghadap sebuah jendela kecil yang membawa cahaya yang terang benderang ke dalam ruangan.”

Jeffrey merasa asing karena tak mengenal siapapun, namun melakukan gerakan ruku’ dan sujud bersama dan seirama. “Tenang sekali, seolah seluruh suara dimatikan,” katanya. Masih dalam mimpinya, di tengah keheningan itu, Jeffrey tersadar bahwa mereka dipimpin seseorang yang berdiri paling depan di bagian tengah ruangan. “Ia berada di sisi kiriku, tepat di tengah ruangan, terpisah dari barisan.”

“Aku hanya sempat melihatnya sekilas, pria itu memakai jubah panjang putih. Di kepalanya terdapat sebuah kain putih dengan motif merah. Saat itulah aku terbangun dari mimpiku.”

Mimpi itu berulang kali menghampiri Jeffrey di sepanjang 10 tahun kehidupan tanpa Tuhan yang dijalaninya. Karena sama sekali tak mengerti, Jeffrey mengabaikannya. Hanya saja, satu hal yang tak dilupakan Jeffrey, “Aku selalu merasa nyaman setiap terbangun dari mimpi aneh itu.”

                                                                       ***

Sepuluh tahun kemudian, di hari pertamanya mengajar di University of San Fransisco, Jeffrey bertemu seorang mahasiswa Muslim di kelas Matematika yang diampunya. Dalam rentang waktu yang cukup singkat, Jeffrey telah menjalin pertemanan dengan mahasiswa Muslim itu, juga keluarganya. Keduanya sering berbincang dan berdiskusi, namun tak pernah membahas soal agama.

Hingga pada suatu waktu, salah seorang keluarga mahasiswa Muslim itu memberi Jeffrey sebuah salinan Alquran. Karena tak sedang mencari agama, dan sebagai seorang ateis, Jeffrey membacanya dengan berbagai prasangka di otaknya.

Jeffrey pun segera terlibat dalam apa yang disebutnya pergulatan. “Alquran menyerangku secara langsung dan personal, mengkritik, mempermalukan, dan menantangku. Sejak awal, kitab itu menorehkan garis peperangan, dan aku berada di wilayah yang berseberangan,” katanya.

“Anda tidak bisa hanya membaca Alquran. Tidak akan bisa jika Anda melakukannya dengan serius. Pilihannya (ketika Anda membaca Alquran) adalah, pertama, Anda telah menyerah padanya atau, kedua, Anda menantangnya.”

Jeffrey kewalahan. Ia kebingungan. “Aku menderita kekalahan parah. Karena saat membacanya, sangat jelas kurasakan bahwa Penulisnya (Allah SWT) mengetahui tentangku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri,” ujarnya takjub.

Ketakjuban itu bertambah. Ketika Jeffrey memunculkan pertanyaan dan sanggahan baru dalam otaknya setiap selesai membaca Alquran hingga bagian tertentu, ia segera memperoleh jawabannya saat meneruskan bacaannya. “Seolah Penulis kitab itu membaca pikiranku.”

“Alquran selalu berada jauh di depan pemikiranku. Ia menghapus rintangan yang telah kubangun bertahun-tahun lalu dan menjawab semua pertanyaanku,” katanya. Semakin keras ia mencoba melawan dengan sanggahan dan pertanyaan, semakin jelas ia memperoleh kekalahan dalam pergulatan itu. “Aku dituntun ke sebuah sudut di mana hanya ada satu pilihan.”

                                                                        ***

Tahun 1982, Jeffrey mendapati sejumlah kecil mahasiswa Muslim memanfaatkan sebuah ruangan kecil di basement gereja untuk shalat. Ia memberanikan diri mengunjungi tempat itu pada suatu hari. Setelah beberapa jam di ruangan kecil itu, Jeffrey keluar dengan sebuah identitas baru; Muslim.

Ia telah bersyahadat di sana, beberapa saat menjelang tengah hari. Memasuki waktu Dzuhur ia berbaur dan berdiri dalam barisan bersama para mahasiswa, dipimpin seorang bernama Ghassan. Jeffrey menunaikan shalat pertamanya.

Jeffrey terlarut dalam setiap gerakan shalat yang diikutinya. Saat menyelesaikan gerakan sujud dan melakukan duduk iftirasy, Jeffrey melihat ke arah depan dan melihat Ghassan. “Ia berada di sisi kiriku, di tengah-tengah di depan sana, di bawah jendela yang menghujani ruangan dengan cahaya. Ia terpisah dari barisan, mengenakan jubah putih, dengan selendang putih bermotif merah di kepalanya.”

“Mimpi itu!,” teriaknya dalam hati. Setelah berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia tak sedang bermimpi, Jeffrey disergap rasa hangat yang mendamaikan hatinya.

Ia berlutut dengan kening menyentuh lantai. Bagian tertinggi raganya yang penuh dengan berbagai pengetahuan dan intelektualitas berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT. Pipi Jeffrey basah oleh air mata.


Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Devi Anggraini Oktavika
»»  Continue Read . . . . .