Sunday, 2 December 2012

INGAT 4 Hal Ini . . . !!!


 1. Empat hal yang membuat badan sakit :
- kebanyakan bicara
- kebanyakan tidur
- kebanyakan makan
- kebanyakan bertemu orang

2. Empat hal yang merusak tubuh :

- Khawatir/cemas
- Kesedihan
- Kelaparan
- Tidur larut malam

3. Empat hal yang membuat murung dan kesedihan :

- Bohong
- Kurang ajar atau tidak hormat
- Berdebat tanpa pengetahuan atau informasi yang memadai
- Amoral atau melakukan sesuatu tanpa rasa takut

4. Empat hal yang meningkatkan wajah berseri dan kebahagiaan :

- Kesalehan
- Loyalitas
- Kedermawaan
- Menolong sesama dengan ikhlas tanpa diminta hanya mengharap ridho ilahi

5. Empat hal yang Memberhentikan Rezeki :

- Tidur di pagi hari dari sholat Subuh hingga matahari bersinar
- Tidak melakukan sholat/berdoa secara teratur
- Malas
- Penghianatan atau ketidak-jujuran

6. Empat hal yang membawa rezeki :

- Berdoa di malam hari
- Tobat
- Beramal
- Berdzikir

----------


Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu. [
sumber]
»»  Continue Read . . . . .

Dosa Yang Lebih Besar Dari Zina


Suatu senja, seorang wanita melangkahkan kaki mendekati kediaman Nabi Musa.

Setelah mengucapkan salam, dia masuk sambil terus menunduk. Air matanya berderai tatkala berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah saya. Doakan agar Allah mengampuni dosa keji saya.”

“Apakah dosamu wahai wanita?” Tanya Nabi Musa. “Saya takut mengatakannya,” jawab wanita itu. “Katakanlah, ja
ngan ragu-ragu!” desak Nabi Musa.

Maka perempuan itu pun dengan takut bercerita, “Saya telah berzina.” Kepala nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

“Dari perzinaan itu saya hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya cekik lehernya sampai mati,” lanjut perempuan itu seraya menangis.

Mata Nabi Musa berapi-api. Dengan muka yang berang dia menghardik: “Perempuan celaka, pergi dari sini. Agar Siksa Allah tak jatuh ke dalam rumahku. Pergi...!!!” teriak nabi Musa sambil berpaling karena jijik.

Hati perempuan itu bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh.
Dia menangis tersedu-sedu dan keluar dari Rumah Nabi Musa.
Ia Tak tahu harus kemana lagi mengadu. Bahkan dia tak tahu ke mana harus melangkahkan kaki. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana manusia lain bakal menerimanya?
 
Sepeninggalnya wanita tersebut, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.

Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak BERTAUBAT dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar dari itu?”

Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?”
“Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang hina itu?” Tanyanya.

“Ada...!!!” jawab Jibril dengan tegas.

“Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada SERIBU kali Berzina.”

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa memanggil wanita tadi, lalu berdoa memohon ampunan kepada Allah.

Nabi Musa menyadari, Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa penyesalan seakan menganggap remeh perintah Allah.

Sedangkan BERTAUBAT dan menyesali Dosa dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai IMAN di dadanya dan Yakin Allah itu ada.

Salam santun selalu dengan penuh takzim tuk semua sahabat.[sumber]
»»  Continue Read . . . . .

Keutamaan Bulan Muharram !!!


Bulan Muharram termasuk bulan yang istimewa. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah dan rasul-Nya memuliakan bulan Muharram, di antaranya adalah:

1. Termasuk Empat Bulan Haram (suci)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus...” (QS. At-Taubah: 36)

 Keterangan:

a. Yang dimaksud empat bulan haram adalah bulan Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram (tiga bulan ini berurutan), dan Rajab.

b. Disebut bulan haram, karena bulan ini dimuliakan masyarakat Arab, sejak zaman jahiliyah sampai zaman Islam. Pada bulan-bulan haram tidak boleh ada peperangan.

c. Az-Zuhri mengatakan:

“Dulu para sahabat menghormati syahrul hurum” (HR. Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, no.17301).

 2. Dari Abu Bakrah radhiallahu‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Dinamakan Syahrullah (Bulan Allah)

Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)

 Keterangan:

 a. Imam An Nawawi mengatakan, “Hadist ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.” (Syarah Shahih Muslim, 8:55)

b. As-Suyuthi mengatakan, Dinamakan syahrullah –sementara bulan yang lain tidak mendapat gelar ini– karena nama bulan ini “Al-Muharram” nama nama islami. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman jahiliyah. Sementara dulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dengan nama Shafar Awwal. Kemudian ketika Islam datanng, Allah ganti nama bulan ini dengan Al-Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah). (Syarh Suyuthi ‘Ala shahih Muslim, 3:252)

c. Bulan ini juga sering dinamakan: Syahrullah Al Asham (Bulan Allah yang Sunyi). Dinamakan demikian, karena sangat terhormatnya bulan ini (Lathaif al-Ma’arif, Hal. 34). karena itu, tidak boleh ada sedikitpun friksi dan konflik di bulan ini.

4. Ada satu hari yang sangat dimuliakan oleh para umat beragama. Hari itu adalah hari Asyura’. Orang Yahudi memuliakan hari ini, karena hari Asyura’ adalah hari kemenangan Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, beliau menceritakan:

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Bukhari)

5. Para ulama menyatakan bahwa bulan Muharram adalah adalah bulan yang paling mulia setelah Ramadhan.

Hasan Al-Bashri mengatakan,

Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 34)

Allahu a’lam

Berikut adalah beberapa amalan sunnah di bulan Muharram:

1. Memperbanyak puasa selama bulan Muharram

 Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)

 Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

“Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Puasa Asyura’ (puasa tanggal 10 Muharram)

Dari Abu Musa Al Asy’ari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Dulu hari Asyura’ dijadikan orang yahudi sebagai hari raya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah kalian.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).Maksudnya dosa-dosa kecil. wallahu'alam...

 Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Bukhari)

 Keterangan:

 Puasa Asyura’ merupakan kewajiban puasa pertama dalam islam, sebelum Ramadhan. Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliallahu ‘anha, beliau mengatakan:

Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya.”

Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah Allah wajibkan puasa Ramadhan, puasa Asyura’ menjadi puasa sunnah. A’isyah radhiallahu ‘anha mengatakan:

“Dulu hari Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadhan, beliau tinggalkan hari Asyura’. Siapa yang ingin puasa Asyura’ boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura’ boleh tidak puasa”. (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Puasa Tasu’a (puasa tanggal 9 Muharram)

 Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah diwafatkan. (HR. Bukhari)

Adakah anjuran puasa tanggal 11 Bulan Muharram?

 Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah puasa Asyura’. Pendapat ini berdasarkan hadits:

 “Puasalah hari Asyura’ dan jangan sama dengan model orang yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad dan Al Bazzar).

 Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadits ini juga dikuatkan hadits lain, yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra dengan lafadz:

“Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”

Dengan menggunakan kata hubung “dan” sementara hadis sebelumnya menggunakan kata hubung “atau”.

Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan status hadits di atas:

Hadits ini diriwayatkan Ahmad dan al-Baihaqi dengan sanad dhaif, karena keadaan perawi Muhammad bin Abi Laila yang lemah. Akan tetapi dia tidak sendirian. Hadits ini memiliki jalur penguat dari Shaleh bin Abi Shaleh bin Hay. (Ittihaf al-Mahrah, hadits no. 2225)

Sementara itu, ulama lain berpendapat bahwa puasa tanggal 11 tidak disyariatkan, karena hadits ini sanadnya dhaif. Sebagaimana keterangan Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam ta’liq musnad Ahmad. Hanya saja dianjurkan untuk melakukan puasa tiga hari, jika dia tidak bisa memastikan tanggal 1 Muharam, sebagai bentuk kehati-hatian.

 Imam Ahmad mengatakan:

Jika awal bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari: (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram), Ibnu Sirrin menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10. (Al Mughni, 3/174. Diambil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 52).

 Disamping itu, melakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, masuk dalam cakupan hadits yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa selama di bulan Muharram. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)

 Ibnul Qayim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:

1. Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.

2. Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak hadits.

3. Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja.

(Zadul Ma’ad, 2/72)

Bolehkah puasa tanggal 10 saja?

 Sebagian ulama berpendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana untuk puasa tanggal 9, di tahun berikutnya, dengan tujuan menyelisihi model puasa orang yahudi. Ini merupakan pendapat Syaikh Ibn Baz rahimahullah.

 Sementara itu, ulama yang lain berpendapat bahwa melakukan puasa tanggal 10 saja tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik, diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 Dalam majmu’ fatawa, Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya:

Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Mengingat ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum makruh untuk puasa tanggal 10 muharram telah hilang, disebabkan pada saat ini, orang yahudi dan nasrani tidak lagi melakukan puasa tanggal 10.


 Beliau menjawab:

 Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, bukanlah pendapat yang disepakati para ulama. Di antara mereka ada yang berpendapat tidak makruh melakukan puasa tanggal 10 saja, namun sebaiknya dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Dan puasa tanggal 9 lebih baik dari pada puasa tanggal 11. Maksudnya, yang lebih baik, dia berpuasa sehari sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa tanggal sembilan (muharram).” maksud beliau adalah puasa tanggal 9 dan 10 muharram.


Pendapat yang lebih kuat, melaksanakan puasa tanggal 10 saja hukumnya tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik adalah diiringi puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 20/42)

Demikian seputar keutamaan dan amalan-amalan di bulan Muharam menurut sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, semoga kita dapat mengamalkannya tanpa mengada-adakan amalan lain yang tidak jelas tuntunannya. Aamiin…


Billahi taufiq wal hidayah..

Semoga Bermanfaat
sumber : Kata-Kata Hikmah
»»  Continue Read . . . . .

Sifat dan Karakter Orang Menurut Hari Lahir


Mungkin gosip kali ini datang dari saya sendiri yang kini lebih suka-sukanya ngebahas tentang sifat dan karakter orang. Mungkin ini buat jaga-jaga dalam menjalin hubungan dengan seseorang itu, kan kita juga perlu tahu bagaimana pribadinya!

Nah, kali ini kita akan coba melihat Sifat dan Karakter Orang itu dari Hari lahir nya, bagaimana bisa ya? Mungkin kamu sudah tidak sabar lagi melihat bagaimana sebenarnya Sifat dan Karakter kamu yang sebenarnya. Langsung deh check it out satu persatu tulisan di bawah ini.
  • Hari Senin.
* Tidak pelit.
* Ikhlas hati dalam memberi.
* Tidak bisa menyimpan uang.
* Senang membela kebenaran.
* Mudah tersinggung.
* Tidak pandai bicara.
  • Hari Selasa.
* Mudah terpengaruh.
* Tidak mempunyai pendirian tetap.
* Gampang naik darah.
* Tidak sabaran.
* Selalu mau menang sendiri.
  • Hari Rabu.
* Pendiam namun kalau sudah bicara tidak terduga.
* Tidak suka mencampuri urusan orang lain.
* Baik hati.
* Suka menolong dan banyak rezeki.
  • Hari Kamis.
* Pendiriannya tidak tetap.
* Suka dipuji.
* Mudah emosi.
* Mudah terbujuk oleh rayuan halus.
* Tidak sabaran.
  • Hari Jumat.
* Disukai orang banyak.
* Kuat mental.
* Suka menolong.
* Suka memberi nasehat yang baik.
* Suka mempelajari ilmu pengetahuan.
  • Hari Sabtu.
* Giat bekerja.
* Rajin pandai mencarari rezeki.
* Ditakuti orang banyak.
* Pandai menempatkan diri.
* Bisa menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik.
  • Hari Minggu.
* Pandai bergaul.
* Disukai orang banyak.
* Berjiwa besar.
* Suka merendahkan diri.
* Pandai berbicara.
* Dapat mengatasi masalah yang dihadapinya dengan baik.

Semoga artikel di atas dapat bermanfaat untuk kamu yang membutuhkan nya. Dan jika ada hal yang salah atau menyinggung pihak-pihak tertentu saya mohon Maaf. Thanks. [sumber]
»»  Continue Read . . . . .