Wednesday, 29 August 2012

Diabetes Mellitus / Kencing Manis [2]




Kencing manis (diabetes mellitus) adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat mengatur kandungan gula dalam darah sehingga glukosa atau gula yang biasanya diangkut menuju sel-sel tubuh sebagai sumber energi justru tercecer dalam aliran darah, bahkan ikut terbuang dalam air seni. Pengaturan gula darah oleh tubuh dilakukan dengan bantuan hormon insulin yang berasal dari pankreas. Diabetes terdiri dari dua jenis:

Tipe 1:
Diabetes karena tubuh tidak memproduksi insulin sehingga penderita harus disuntik insulin setiap hari untuk mengendalikan kadar gula darah. Diabetes tipe 1 terjadi pada anak-anak dan remaja dan perkembangannya berlangsung cepat.

Tipe 2:
Pada diabetes tipe 2, pankreas memproduksi insulin, namun sel-sel tubuh tidak meresponnya secara normal. Jenis diabetes ini biasanya terkait dengan kegemukan dan beberapa kasus kehamilan serta baru berjangkit pada usia di atas 40 tahun.

Kadar gula darah tinggi secara lambat laun akan mengakibatkan kerusakan pembuluh darah dan saraf yang mengakibatkan gangguan fungsi mata, ginjal dan saraf serta meningkatkan risiko serangan jantung, stroke dan impotensi.

Gejala diabetes
Pada diabetes tipe 2, kontrol gula darah dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup dan pola makan. Menurut berbagai penelitian, perubahan tersebut terbukti efektif menekan risiko diabetes. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk menyadari bila diabetes sudah ada dalam diri Anda. Sekitar 8.6% penduduk Indonesia menurut WHO mengidap diabetes, sayangnya banyak yang tidak menyadari sampai kasusnya menjadi kronis.

Seseorang dikatakan menderita diabetes bila kadar gula dalam darahnya di atas 126 mg/dl (puasa) atau 200 mg/dl (tidak puasa). Namun, kebanyakan gejala diabetes baru terlihat bila gula darah sudah di atas 270 mg/dl. Jangan mengandalkan gejala untuk mengetahui kehadiran diabetes. Satu-satunya cara yang akurat untuk mengetahuinya adalah dengan tes darah dan urin.

Gejala atau tanda-tanda diabetes yang umum terjadi adalah:
  • Dehidrasi
  • Rasa haus terus-menerus
  • Peningkatan frekuensi kencing
  • Kelelahan
  • Penurunan berat badan
  • Gangguan penglihatan
  • Penyembuhan luka yang lama

»»  Continue Read . . . . .

11 Makanan Pengontrol Gula Darah



Pengaturan makan merupakan pilar terpenting bagi pengobatan diabetes. Penderita diabetes (diabetesi) yang bijak pasti mau belajar mengenali makanan yang menyebabkan gula darahnya tinggi dan berusaha menghindari makanan tersebut.

Pada dasarnya diabetesi bisa mengonsumsi segala makanan seperti orang lain, tetapi harus dibatasi yang mengandung gula, lemak, dan kadang-kadang makanan yang bergaram tinggi. Penting pula awasi jumlah makanan yang diasup.
Disadari atau tidak alam telah memberikan beberapa makanan luar biasa yang dapat membantu mengontrol kadar gula darah Anda. Berikut ini adalah 11 makanan yang baik untuk gula darah:  

1. Labu pahit (Karela)
Jika Anda memiliki anggota keluarga menderita diabetes, sudah saatnya untuk menyiapkan karela di meja makan. Sayuran ini sangat bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah dan kencing manis. Tetapi jangan menggabungkan makanan ini dengan obat penurun gula darah, karena bisa membuat gula darah Anda turun drastis.

2. Gandum
Cobalah untuk memasukkan lebih banyak produk gandum dalam daftar makanan Anda. Disamping mengandung banyak vitamin esensial, mineral, dan serat, gandum juga mengandung karbohidrat kompleks yang diperlukan tubuh untuk menghasilkan energi. Karbohidrat kompleks diserap lebih lambat ketimbang karbohidrat sederhana, sehingga kadar gula darah tetap stabil.

3. Apel
Kandungan pektin tinggi dalam buah ini dipercaya membantu menurunkan kebutuhan insulin tubuh. Sebuah studi tahun 2005 menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi setidaknya satu apel sehari 28 persen lebih kecil menderita diabetes tipe 2 ketimbang mereka yang tidak makan apel.

4. Kacang
Serat larut yang tinggi dalam kacang tidak hanya bermanfaat untuk sistem pencernaan dan jantung, tetapi juga menyimpan gula darah setelah makan. Jika Anda mengalami resistensi insulin, hipoglikemia atau diabetes, kacang benar-benar dapat membantu Anda menyeimbangkan kadar gula darah.

5. Kayu manis
Bahan paling aktif yang terkandung dalam kayu manis adalah methylhydroxy-chalcone polimer (MHCP) yang meniru efek insulin, dan bekerja sinergis dengan insulin dalam sel. Namun penelitian sejauh ini baru melibatkan sejumlah kecil orang dan belum dieksplorasi manfaat jangka panjang dari kayu manis.

6. Ikan
Ikan (seperti salmon dan tuna) merupakan sumber yang kaya akan asam lemak omega-3 - lemak sehat yang mengurangi risiko penyakit jantung, mengurangi peradangan, dan meningkatkan resistensi insulin.

7. Cabai
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Nutrition, para peneliti Australia menemukan bahwa memasukan cabai dalam bagian rutin diet setiap hari akan membantu menurunkan gula darah setelah menyantap makan. Selain itu, cabai juga mengandung antioksidan, vitamin C dan karotenoid yang dapat membantu meningkatkan regulasi insulin.

8. Fenugreek
Fenugreek, selain mengandung banyak serat yang sangat penting bagi penderita diabetes, dapat menurunkan resistensi insulin dan mengontrol kadar glukosa darah dengan meningkatkan jumlah reseptor insulin dalam sel darah merah.

9. Brokoli
Brokoli adalah sumber terbaik dari kromium - mineral yang membantu mengatur insulin dan gula darah. Akan lebih protektif bila dimakan mentah atau dimasak sebentar.

10. Bawang putih
Bawang putih memiliki bahan-bahan aktif seperti alil propil disulfida (APDS) dan diallyldisul-phide oksida (allicin). Apabila dikombinasikan dengan flavonoid maka akan memainkan peran penting dalam menurunkan kadar glukosa. Allicin dapat digabungan dengan vitamin B1 (tiamin) untuk merangsang pankreas melepaskan insulin.

11. Kedelai
Kedelai memiliki sedikit kandungan pati tetapi jumlah serat dan protein yang tinggi dapat memberikan sebuah efek yang berharga dalam menurunkan ekskresi urin pada orang yang menderita diabetes.

»»  Continue Read . . . . .

Seandainya Ketaqwaan ada Sertifikatnya, Refleksi Idul Fitri . . .


Saya membayangkan, pada satu saat setelah selesainya bulan Ramadhan malaikat turun kebumi membawa sertifikat yang telah ditanda-tangani, telah dicap stempel akherat, disana tertulis nama saya. Pernyataan dalam sertifikat tersebut : “Telah berhasil menjalani ibadah puasa dibulan Ramadhan dengan hasil memuaskan, dan untuk itu yang bersangkutan telah dianugerahi ketaqwaan dan dinyatakan telah bersih dari dosa seperti bayi yang baru lahir, demikianlah sertifikat ini dibuat dan diberikan untuk dipergunakan sebagaimana mestinya”. Apa reaksi logis yang akan saya lakukan..?? apa yang akan anda perbuat kalau itu terjadi dengan diri anda..??

Saya pasti akan mencari pigura yang bagus, kalau bisa terbuat dari emas, berukir indah dengan hiasan permata, sertifikat tersebut akan saya gantung di dinding untuk bisa saya nikmati setiap waktu dengan bangga, tidak lupa saya akan mengadakan selamatan mengundang teman-teman, kalau perlu mengundang band D’masiv atau wayang kulit semalam suntuk, sebagai tanda syukur atas hadiah yang sudah diberikan. Lalu…?? Yaa…cuma sampai disitu, setelah itu saya akan kembali melanjutkan kehidupan dengan cara yang sama seperti sebelum Ramadhan, toh ketaqwaan sudah saya dapatkan dan saya sudah menikmatinya, nanti pada Ramadhan ditahun depan, saya akan bikin program lagi agar kembali bisa mendapatkan sertifikat yang sama.
Namun untungnya, ketaqwaan tidak ada sertifikatnya, selesai Ramadhan kita sama sekali tidak mengetahui apakah kita sudah berhasil menjalankan ibadah puasa tersebut dengan standard yang telah ditentukan oleh Allah, apakah Dia sudah menjadikan kita orang-orang yang bertaqwa sesuai apa yang dinyatakan-Nya dalam Al-Qur’an, ketika Ramadhan selesai kita hanya bisa berharap :”Semoga Allah menerima ibadah yang kita lakukan selama ini – taqabbalallahu minna wa minkum…”, atau sebaliknya kita hanyalah seseorang yang rugi seperti yang disampaikan oleh Rasulullah : “Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali haus dan lapar.” (Hadits Riwayat Bukhari-Muslim).


Ketaqwaan ditanamkan Allah bukan dalam bentuk ‘hasil’, namun di menyatu dengan ‘proses’. Sebenarnya sangat gampang untuk mengidentifikasi apakah amal ibadah kita selama Ramadhan benar-benar telah mencapai hasil seperti yang ditetapkan, mengacu kepada apa niat kita ketika memulainya. Apabila kita memasang niat diawal Ramadhan memang untuk mendapatkan ketaqwaan, maka itu pula yang akan kita peroleh, karena selama menjalankan ibadah tersebut kita akan selalu mengisi hati kita dengan pertanyaan : “Apakah saya sudah maksimal menjalankannya, sudah mengisi hari-hari dibulan Ramadhan dengan memperbanyak shalat, meningkatkan kualitas shalat fardhu dengan sebanyak mungkin mengerjakannya di mesjid, menyediakan waktu lebih untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, banyak bersedekah dan berbuat kebaikan. .”. Bagi kita yang menetapkan niat hanya karena menjalankan kewajiban, maka di akhir Ramadhan yang kita rasakan adalah kebebasan kembali dari ‘tugas berat’ yang tidak kita sukai menjalankannya. Setiap hari di bulan Ramadhan selalu kita isi dengan ‘penantian panjang’ kapan waktu berbuka, lalu setelah sahur hati kita selalu resah mengingat jam-jam berikut yang harus kita isi dengan keterikatan, tidak boleh makan-minum, jangan berbuat aneh-aneh seperti ngobrol membuang waktu atau sekedar menikmati wanita cantik yang lewat dihadapan, ketika Ramadhan berakhir kita berteriak gembira :”Merdekaaa…!!”.

Ketaqwaaan diberikan Allah bukan dalam bentuk deviden atau hasil usaha yang bisa kita nikmati dan habiskan begitu kita menerimanya, tapi itu diberikan Allah dalam bentuk ‘suntikan modal’ agar usaha kita dimasa yang akan datang bisa dijalankan dengan lebih berkembang dan lebih berkualitas, sehingga diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar. Meminjam istilah krisis finansial kemaren, pada bulan Ramadhan, kita diberikan ‘stimulus ekonomi’ ketika perbuatan baik yang kita lakukan diganjar pahala yang berlipat, ibarat sebuah supermarket yang menggelar bulan promosi dengan ‘harga pahala’ yang diobral serendah mungkin, diskon besar-besaran, beli satu gratis satu, dengan jumlah uang yang sama kita bisa memperoleh barang yang lebih banyak, demikian pula amal kebaikan yang kita kerjakan dibulan Ramadhan akan menghasilkan pahala yang lebih banyak. Pahala yang kita dapat telah ditetapkan Allah bisa menghapus dosa-dosa kita :

[11:114]..Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Al-Ghazali mengatakan bahwa dosa itu ibarat kotoran yang menempel di qalbu, sedangkan qalbu ibarat cermin, ketika kotoran tersebut makin banyak dan tidak dibersihkan, qalbu kita tidak mampu lagi untuk menerima cahaya yang datang dari Allah, qalbu kita sudah membatu untuk bisa menerima kebenaran. Di bulan Ramadhan Allah memberikan kesempatan agar kita bisa membersihkan kotoran yang menempel dengan cara yang lebih gampang dan cepat, sehingga amal kebaikan kita selama Ramadhan menghasilkan ‘deterjen dengan formula khusus’, yang bekerja disaat Ramadhan selesai, qalbu kita kembali bersih dan bisa menerima cahaya kebenaran yang datang dari Allah. Indikasinya sangat terasa, kita begitu mudah tersentuh dan menangis ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan, kesalehkan kita yang dikerjakan pada bulan Ramadhan berlanjut terus, merasa nikmat mengerjakan shalat di mesjid, tetap mencoba membaca Al-Qur’an setiap hari karena ada dorongan yang datang dalam hati, ada dorongan untuk berpuasa sunat, tergugah melihat kehidupan orang-orang lain yang mengalami kesulitan, tetap bersikap dermawan dan sering memberikan sedekah. Artinya ‘suntikan modal’ ketaqwaan dari Allah sudah bekerja. Disitulah dikatakan bahwa ketaqwaan tidak diberikan dalam bentuk ‘hasil’, melainkan dicantelkan kedalam ‘proses’ kita menjalani kehidupan selanjutnya. Kalau anda bisa merasakan hal tersebut, artinya ibadah anda selama Ramadhan sudah berhasil mencapai target yang telah ditetapkan Allah.

Lalu apakah dimasa-masa mendatang kita akan menjalankan kehidupan yang damai sejahtera, tenteram, bahagia, mengalami kenikmatan hidup yang terus-menerus yang lebih bahagia dibandingkan sebelumnya..?? Orang yang bertaqwa tidak akan mempermasalahkan soal itu, karena kebahagiaan, kesejahteraan, kenikmatan selalu datang silih berganti dengan kesengsaraan, kemalangan dan nestapa

[21:35] Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Hikmah Ramadhan terletak kepada kesiapan jiwa kita untuk menghadapi ujian Allah selanjutnya dan bukan terletak pada ada atau tidaknya cobaan yang akan mendatangi kita. Boleh jadi ujian tersebut akan kita hadapi dalam jumlah dan kualitas yang lebih tinggi, yang sanggup mengguncangkan hati, bisa dalam bentuk kehilangan sanak keluarga yang kita cintai, lenyapnya harta benda dan jabatan, penyakit, problema yang datang dari pasangan dan anak-anak, atau bisa juga hal yang sebaliknya : dapat jabatan baru dengan kekuasaan yang lebih besar, memperoleh harta melimpah sehingga sanggup membeli apapun, keberhasilan anak-anak yang akan membuat kita berbangga dan terlena.

Ketaqwaan yang diberikan membuat kita sanggup untuk menghadapi semuanya, tidak akan membuat kita menjadi manusia yang makin menjauhkan diri dengan Allah. Ketika Allah memberi kita ujian, Dia sebenarnya sudah menyatakan bahwa ujian tersebut akan sanggup kita hadapi, dan kalau kita cerdas untuk memanfaatkan kemampuan diri, maka kita akan kembali bergerak kepada tingkatan yang lebih tinggi dan lebih dekat kepada Allah. Kebaikan dan keburukan yang ditimpakan akan merangsang kita untuk meningkatkan interaksi kita dengan Allah, membuat kita berusaha menghadirkan Allah dalam qalbu kita setiap saat, kebaikan akan membuat kita mengingat-Nya dengan rasa syukur, keburukan dan musibah akan memunculkan-Nya dalam rasa sabar, tidak ada satu kejadianpun yang akan membuat kita terputus hubungan dengan Allah. Interaksi itulah yang akan dinilai, apakah kita sudah menjalani kehidupan lebih baik dari sebelumnya berdasarkan penilaian Allah. Ketaqwaan merupakan ‘bahan bakar’ kita untuk makin mendekatkan diri kepada-Nya karena Allah sudah menetapkan posisi bagaimana Dia akan berinteraksi dengan kita :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Untung ketaqwaan tidak ada sertifikatnya, kalau ada maka kita mungkin saat ini sedang duduk-duduk didepan sertifikat tersebut yang digantung didinding berpigura indah dari emas, memandangnya dengan bangga, merasakan ‘kenikmatan’ status yang sudah kita dapatkan, dan kita tidak menyadari bahwa sebenarnya hidup kita telah berhenti. [sumber]
»»  Continue Read . . . . .

Lailatul Qadar, Malaikat Kesiangan dan Turunnya Al-Qur’an . . .


Saya ingat cerita guyonan ayah saya ketika masih kecil dulu tentang lailatul qadar. Seseorang terbangun tengah malam dimasa-masa akhir bulan Ramadhan untuk melakukan shalat tahajud, dia pergi kepancuran air yang ada diluar rumah untuk berwudhu. Agar tidak basah kena air, maka orang tersebut melepas kopiahnya dan menggantungkan di dahan sebuah pohon. Ketika wudhu selesai dan dia menjulurkan tangan bermaksud meraih kopiah dari dahan pohon dengan mata tertutup karena masih basah oleh air, namun kopiah tidak ada ditempat semula. Ketika orang ini membuka matanya, ternyata dahan pohon tempat kopiahnya tergantung sudah berpindah tempat, membengkok kearah lain. Malam itu lailatul qadar, langit yang tadinya gelap gulita mendadak terang-benderang, langit terbuka, malaikat turun kebumi berbondong-bondong, dan semua makhluk termasuk pohon tadi, bersujud kearah kiblat, makanya dia tidak menemukan kopiahnya ditempat semula, ikut-ikutan terbawa dahan pohon yang sedang bersujud tersebut.

Cerita ini mempengaruhi persepsi saya tentang lailatul qadar sampai sekarang, bahwa malam istimewa tersebut ditandai dengan fenomena alam yang bisa dilihat semua orang, yang kebetulan terjaga pada waktu itu. Alam semesta memperlihatkan diri secara menakjubkan dan malaikat yang turun kebumi bisa disaksikan dengan mata telanjang, sampai kemudian saya merenung di Masjidil Haram di bulan Ramadhan tahun ini. Pada umumnya semua orang yang datang untuk melakukan umroh dibulan puasa kesana mengharapkan bisa bertemu dengan lailatul qadar, bisa menjadi saksi saat-saat beberapa menit malam yang penuh berkah tersebut, bernilai lebih dari seribu bulan. Jadwal kegiatan di Masjidil Haram sangat mendukung agar kita bisa bertemu dengan lailatul qadar. Mulai dari maghrib ketika berbuka puasa dan melakukan shalat, lalu dilanjutkan dengan shalat ‘Isya dan tarawih sampai jam 11 malam, pada sepuluh hari terakhir ketika Rasulullah memberi petunjuk lailatur qadar akan terjadi pada masa-masa tersebut, kegiatan ibadah ditambah lagi mulai jam 1 tengah malam untuk bertahajud bersama-sama sampai jam 3 pagi, tidak berapa lama shubuhpun datang.

Orang-orang di Masjidil haram punya keyakinan kalau lailatul qadar terjadi pada malam ke-27 sehingga waktu itulah terjadi puncak kepadatan. Orang-orang sudah datang ke masjid mulai pagi dan siang, bahkan menjelang sore para petugas terpaksa menutup jalan kesana karena masjid sudah penuh. Hampir semua membawa bekal untuk berbuka dan makan sahur di masjid agar kesempatan tidak terlepas walau sedetikpun dari datangnya lailatul qadar. Keyakinan akan datangnya malam ini dihari ke-27 berdasarkan beberapa hadits Rasulullah yang menyebut malam ke-27 tersebut, namun terdapat juga hadits lain yang menyebut lailatul qadar terjadi pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, ada juga yang berbunyi terjadinya pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir tersebut. Mungkin karena keyakinan lailatul qadar terjadi pada malam ke-27, makanya pada malam berikutnya kepadatan orang di Masjidil Haram menjadi menurun, mereka menganggap malam tersebut sudah lewat jadi tidak perlu lagi ‘ngendon’ di masjid. Soal ini biarlah menjadi urusan masing-masing, saya tidak ingin memperpanjang persoalannya.

Yang menjadi renungan saya adalah, apakah memang datangnya lailatul qadar berbentuk fenomena alam yang istimewa sampai orang-orang yang terjaga diwaktu itu bisa melihatnya. Bisa melihat langit yang terbuka, malaikat turun kebumi..?? Pertanyaannya adalah kapan waktunya..?? Katakanlah lailatul qadar memang terjadi di Masjidil Haram, pada masa dua pertiga malam terakhir, sekitar jam 2 atau jam 3 dinihari. Pada waktu itu di Indonesia sudah pagi, jam 6 atau jam 7, jadi kalau para malaikat turun kebumi maka untuk waktu Indonesia jelas mereka sudah kesiangan, telat masuk kerja. Kalau dikatakan lailatul qadar yang datangnya beberapa menit tersebut punya ‘jadwal’ yang berbeda untuk setiap wilayah, maka pertanyaannya adalah : apakah terjadi  pada tanggal yang sama..?? Lalu apakah fenomena alam yang terjadi bisa disaksikan oleh orang-orang yang terjaga  pada waktu itu..?? kalau tidak, maka itu tidak bisa dikatakan sebagai suatu fenomena alam. Kalau bisa disaksikan maka bencong-bencong yang ‘itikaf’ dilampu merah sepanjang hari (bahkan bukan hanya di bulan Ramadhan saja) akan punya kesempatan untuk menyaksikan langit terbuka dan malaikat turun kebumi. Di Masjidil Haram, saya juga tidak pernah mendengar ada orang yang pernah menyaksikan keajaiban alam tersebut. Ada yang bilang :”Memang bagi orang yang dianugerahi malam qadar tersebut tidak akan pernah mau bercerita pengalamannya..”, ini luar biasa karena bisa terjadi adanya GTM – Gerakan Tutup Mulut secara masal mulai dari ribuan tahun lalu sampai sekarang.

Pemahaman tentang lailatul qadar seperti ini juga menimbulkan kesan kalau orang-orang memperlakukan peristiwa ini seperti halnya menunggu pesta kembang api di malam tahun baru, bisa menyaksikan kemeriahan dan pemandangan menakjubkan, lalu selesai saja. Logikanya bertemunya seseorang dengan lailatul qadar semestinya terlihat dengan pertanyaan ‘what next’..? Buat apa bertemu lailatul qadar kalau setelah itu tetap melakukan kemaksiatan yang sama, tetap berlaku curang dan menyombongkan diri, tetap terpesona dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Atau sebaliknya malah membuat seseorang berlagak seperti dukun sakti mandraguna, merasa punya ilmu ghaib untuk membaca isi hati orang, menyembuhkan penyakit dan membaca peristiwa yang akan terjadi dimasa datang.

Saya sendiri ‘curiga’ dengan redaksi kalimat Al-Qur’an tentang lailatul qadar, ketika Allah menginformasikan bahwa dimalam tersebut :

tanazzalu almalaa-ikatu waalrruuhu fiihaa bi-idzni rabbihim min kulli amrin [QS 97:4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Redaksi bahasa aslinya adalah ‘tanazzalu malaaikat wa ruuh’ – turun malaikat-malaikat dan ruh – lalu kata ini ditafsirkan dengan ‘malaikat dan Jibril’ yang mengatur segala urusan. Memang dalam ayat lain Al-Qur’an sering menyebut Jibril dengan sebutan ‘ruh’, misalnya pada kata ‘ruhul qudus’ [QS 16:102] atau juga ‘ruhul amin’ [QS 26:193], namun kata yang sama juga dipakai Al-Qur’an sebagai kata ganti penyebutan Al-Qur’an itu sendiri, misalnya pada ayat :

wakadzaalika awhaynaa ilayka ruuhan min amrinaa [QS42:52] Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami.

Sehingga menafsirkan kata ‘ruh’ pada surat al-Qadr tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah dengan demikian Jibril tidak termasuk dalam kelompok malaikat..? kalau memang dipisahkan lalu apa alasannya..?? Menurut saya indikasi tentang hal ini bisa ditelusuri dengan melihat ayat pertama surat al-Qadr tersebut :

innaa anzalnaahu fii laylati alqadri [QS 97:1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan..

Kalaupun mau ditafsirkan bahwa kata ‘ruh’ pada ayat tersebut merujuk kepada malaikat Jibril maka kita seharusnya memahami tidak hanya terbatas kepada sosok Jibrilnya saja, tapi terkait dengan ‘apa yang dibawa’ oleh Jibril dengan didampingi para malaikat lain yang bertujuan untuk ‘mengatur segala urusan’. Yang dibawa turun pada lailatul qadar tersebut adalah Al-Qur’an, dan karena ayat-ayat tersebut sudah diturunkan dijaman Rasulullah, maka pengertian Al-Qur’an disini adalah ‘pemahaman terhadap Al-Qur’an’.

Pada lailatul qadar, Allah telah mengutus Jibril dan para malaikat lain untuk membawa pemahaman tentang Al-Qur’an dan akan diberikan kepada hamba-Nya yang telah dipilih untuk itu. Maka lailatul qadar bukan merupakan fenomena alam, berbicara tentang perubahan cuaca dan pemandangan menakjubkan melihat malaikat turun kebumi. Bisa saja hal tersebut terjadi, namun hanya berfungsi sebagai unsur yang ‘memeriahkan’nya saja. Lailatul qadar adalah peristiwa yang sifatnya personal, hanya dialami oleh orang-orang terpilih, ketika tiba-tiba dalam perenungannya mendapat pencerahan tentang Al-Qur’an. Pencerahan tersebut akan berpengaruh terhadap sikap hidupnya dimasa selanjutnya karena hijab telah terbuka. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang berisi banyak informasi termasuk rahasia kehidupan dan alam akhirat. Ketika pemahaman dianugerahkan Allah, orang tersebut mengerti dan mendapat gambaran jelas tentang hal tersebut, sekalipun mungkin tanpa kata-kata, dia bisa melihat secara terang-benderang akan nasibnya kelak.

Kalau anda bertanya apakah saya pernah mengalami lailatul qadar..?? maka saya memastikan tidak pernah bertemu fenomena alam yang ajaib seperti yang digambarkan orang selama ini. Beberapa tahun terakhir saya juga begadang dimalam-malam terakhir Ramadhan, setiap malam sama saja, tidak ada yang aneh. Namun ijinkanlah saya bercerita kisah saya 2 tahun lalu, ketika saya menyempatkan diri untuk beriktikaf di masjid di kompleks perumahan tempat saya tinggal. Sebenarnya bukan iktikaf seperti pemahaman yang diajarkan Rasulullah, yaitu 24 jam berdiam di masjid memutuskan hubungan dengan dunia luar dan semata-mata hanya berkomunikasi dengan Allah saja, iktikaf saya lakukan selesai shalat tarawih ketika orang-orang sudah pulang kerumah, sampai waktu sebelum shubuh. Biasanya saya memiliki 3 atau 4 orang teman melakukan hal yang sama, namun ketika itu saya hanya sendiri di masjid karena yang lainnya sudah pada mudik. Seperti biasanya saya meneruskan membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata karena tidak fasih, sudah sampai kepada surat al-Mu’minuun. Disaat membaca ayat-ayatnya mulailah saya terkesima. Awal surat al-Mu’minuun bukan kali ini saja saya baca dan dengar, ini adalah ayat favorit para iman shalat berjamaah di masjid, sudah sering diulang-ulang, namun kali ini saya merasa Allah berbisik dekat di telinga, seolah-olah menghibur dan menjawab pertanyaan yang beberapa tahun belakangan muncul dalam pikiran :

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya.

Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Ayat-ayat tersebut sangat terang-benderang dalam pikiran, tidak perlu penafsiran macam-macam, menjawab pertanyaan dan keraguan yang selama ini sering muncul karena saya sendiri merasa orang yang telah banyak melakukan perbuatan sia-sia dimasa lalu, sehingga muncul pertanyaan :”Apakah Allah masih mau menerima saya sebagai hamba-Nya..?”. Yang saya ingat, waktu itu saya hanya bisa menangis terisak-isak, dan menjatuhkan diri bersujud dalam-dalam lalu berikrar untuk tidak lagi melepaskan diri dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah.

Jadi kalau anda bertanya apakah saya pernah bertemu lailatul qadar, buat saya saat itulah lailatul qadar. [sumber]
»»  Continue Read . . . . .