Tuesday, 10 July 2012

Miskin tapi Kaya, Kaya tapi Miskin !!!


Namun sebenarnya ukuran kemiskinan sangat subjektif dan tidak jelas. Kita mendengar berita beberapa tahun lalu, anggota DPR yang punya gaji puluhan juta sebulan menjerit-jerit minta kenaikan gaji, mereka merasa sangat miskin karena penghasilan yang kelihatannya besar tersebut sudah dipotong sana-sini, sekian persen harus disetor ke partai, sekian juta untuk melayani konstituen dari dapil masing-masing, belum lagi untuk memenuhi permintaan sumbangan ini-itu yang tidak bisa ditolak. Dengan kondisi demikian anggota dewan menganggap posisi keuangannya menjadi tekor alias defisit, akhirnya mereka berteriak-teriak minta agar gaji mereka ‘disesuaikan’. Kita boleh mengatakan bahwa sebenarnya para anggota DPR sudah termasuk kategori orang miskin.

Sebaliknya banyak kita temukan orang-orang pinggiran yang dilihat dari sudut pandang kita berada pada kehidupan yang paling bawah, pemulung, kuli bangunan, tenaga kerja serabutan, jualan cendol dan gorengan, tukang service sepatu, hidup didaerah yang sederhana. Boleh jadi mereka mampunya hanya mengkonsumsi makanan dibawah 2.100 kalori perhari perkapita, namun soal meminta-minta menjadi pantangan, hidup melarat tapi tidak pernah menyusahkan orang lain, apa yang didapat itu yang dimakan, kalau tidak ada makanan maka mereka berpuasa. Ini bukan kisah romantisme dan hanya ada di skenario sinetron, anda bisa menemukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau begitu, sulit untuk kita menyatakan orang-orang pinggiran ini sebagai orang miskin.

Ketidak-jelasan kaya miskin juga akan terlihat ketika orang bersikap terhadap rencana kenaikan BBM. Ukuran langsung berubah total. Kriteria orang kaya terkait merek dan harga mobil, yang diatas sekian ratus juta dikategorikan kaya, sebaliknya yang punya mobil ‘sekedar’ Avanza, Xenia, Suzuki Carry, dikategorikan sebagai orang miskin dan layak dapat subsidi. Orang lalu mendadak ‘memiskinkan diri’ dengan membeli mobil kelas bawah, sedangkan yang mewah disimpan di garasi, khusus buat ‘Sunday driving’. Dalam konteks ini, kaya atau miskin bisa di’stel’.

Kita mungkin lupa, bahwa kaya atau miskin tempatnya di hati, itulah fakta yang kita temukan sehari-hari, fakta yang tidak bisa dibantah. Banyak orang miskin sebenarnya kaya-raya, sebaliknya banyak orang kaya tapi pada hakekatnya miskin. Saya sangat menyukai suatu dialog dalam film ‘Wallstreet’ karya Oliver Stone pada tahun 1987, Bud Fox (Charlie Sheen) seorang muda yang berkiprah sebagai pialang di bursa saham Wallstreet dengan gaji puluhan ribu dollar sebulan, suatu ketika meminjam uang kepada ayahnya seorang mekanik sebuah perusahaan penerbangan. Si ayah memberikan uang dan berkata heran :”Gajimu puluhan ribu dollar sebulan, tapi masih kekurangan juga..”.

Penetapan standard kemiskinan berdasarkan ukuran materi sangat sesat, akibatnya semua program kerja dan strategi pemerintah dalam mengatasi kemiskinan juga bakalan nyasar. Kita sering mendengar pidato pemerintah yang menyatakan :”Pemerintah berhasil menekan angka kemiskinan dari sekian persen penduduk menjadi hanya sekian persen..”, namun dihadapan mata kepala sendiri kita menemukan rakyat menjerit hidup susah karena menganggap dirinya masih miskin. Kalaulah ukuran kemiskinan dipatok berdasarkan jeritan rakyat tersebut, maka dijamin 90% rakyat kita masih miskin, karena ‘merasa miskin’ sudah merupakan tabi’at orang Indonesia. Pemerintah boleh saja berkoar telah berhasil mengurangi orang miskin, tapi rakyatnya tetap saja tidak merasa jadi orang kaya, aneh khan…

Kalau saja manusia bisa melihat kemiskinan dari sisi yang lain,  bahwa kemiskinan tersebut sebenarnya datang dari hati yang ‘merasa miskin’, maka program pemerintah untuk mengatasinya pasti berbeda. Kita akan menemukan adanya pos anggaran negara untuk program ‘meningkatkan harga diri’, atau juga  rencana kerja untuk pelatihan ‘kelompok rakyat pantang menyerah’, atau juga pembentukan ‘barisan masyarakat pantang meminta-minta’. Ketika sebagian besar rakyat mampu dilatih untuk bersikap demikian, bakalan banyak masalah yang bisa diselesaikan. Urusan kisruh kenaikan BBM tidak akan terjadi karena orang yang mampu pasti merasa malu untuk ‘meminum’ BBM bersubsidi, program Bantuan Langsung Tunai (BLT) juga tidak akan ribut akibat banyak orang yang mendadak jadi miskin. Atau juga korupsi yang dilakukan orang kaya yang merasa miskin, itu juga bisa diatasi dengan program peningkatan harga diri.

Kita pernah mendengar cerita dijaman khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 716 M, ketika beliau mengutus petugas zakat untuk membagikan harta zakat yang terkumpul, lalu si petugas mencari-cari penduduk miskin diseluruh wilayah kekhalifahan, namun tidak ketemu seorangpun. Si petugas lalu kembali melaporkan kondisi yang ditemuinya dilapangan, menyatakan bahwa tidak seorangpun yang layak menerima zakat karena sudah sejahtera. Khalifah Umar lalu memakai harta zakat tersebut untuk keperluan lain seperti memajukan bidang pendidikan dan kajian ilmu pengetahuan. Waktu itu belum ada standard kemiskinan model yang ditetapkan PBB atau BPS, maka kita tentu bertanya-tanya :”Lalu apa ukuran seseorang dikategorikan sebagai orang miskin….?”. Saya membayangkan bahwa ukurannya ditentukan berdasarkan pengakuan calon penerima zakat, apakah mereka mau menerima zakat, merasa berhak untuk itu..?? apabila orang tersebut menolaknya, maka dia dikatakan bukan merupakan orang miskin. Suasana keimanan yang menghasilkan penduduk dengan harga diri yang tinggi dan tidak suka meminta-minta, yang menyebabkan tidak adanya penduduk miskin dalam kekahlifahan tersebut.

Seharusnya kita bisa belajar dari fakta sejarah tentang masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz..

»»  Continue Read . . . . .

Al-Qur’an, Kitab yang ‘Menelan’ si Pembacanya..


Marilah kita mulai membaca ayat ini pelan-pelan, satu persatu. Kita mengambil posisi berhadapan dengan Al-Qur’an, membaca informasi yang ada didalamnya,

Pertama kita baca kalimat ‘Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ,dst, dst’, ketika membaca kalimat tersebut, kita diposisikan oleh si Penulisnya untuk mengambil tempat berhadapan dengan-Nya, Dia bicara langsung kepada kita karena memakai kata ganti orang pertama, lalu ketika melanjutkan membaca ‘yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan langit dan bumi’, ketika itu posisi sudah berpindah, si penutur kalimat seolah-olah berada disamping, menceritakan tentang Allah ‘disana’ si Pencipta langit dan bumi, kita seolah-olah berada disatu ketinggian melihat luasnya langit dan bumi yang diciptakan-Nya, berinteraksi dengan alam raya sebagai bukti tentang keberadaan Allah. Kalau dibayangkan sebagai suatu shooting adegan film, posisi kamera yang sebelumnya berada dibelakang kita, mewakili mata kita untuk menatap sipenutur cerita telah berpindah, posisinya sekarang beralih berada disamping  untuk mengarahkan pandangan kearah alam semesta, keberadaan kita tidak lagi tampak dalam layar, namun tergambar melalui mata kamera, sama-sama memandang alam yang ditangkap oleh kamera tersebut.

Lalu ketika melanjutkan kepada kalimat ‘Tuhan yang Maha Pemurah, bersemayam diatas ‘arsy, posisi kita makin ‘menciut’ memberi penekanan kepada keagungan ‘arsy karena adanya perpindahan bentuk kata ‘Allah’ menjadi ‘ar-rahmaan’, Allah nun berada dalam keagungan-Nya, namun sifatnya yang ar-rahman terasa sangat dekat dengan kita yang berada ditengah-tengah alam semesta ciptaan-Nya. Ibarat kamera di ‘zoom-out’ menciptakan jarak yang makin jauh, namun dikontradiksikan dengan pemakaian kata yang menunjukkan sekalipun jaraknya makin jauh tetapi kekuasaan-Nya tetap dekat menjangkau setiap gerak-gerik kita. Ketika dilanjutkan ke kalimat ‘kepunyaan-Nya, dst, dst’, kata ganti yang dipakai adalah pihak ketiga, berarti si penuturnya ada disamping kembali, sekali lagi memperlihatkan apa yang menjadi kepunyaan-Nya, yaitu seluruh langit dan bumi yang bisa dilihat. Kamera berpindah posisi berada disamping kita dan pihak yang memberikan informasi, merekam dialog yang terjadi antara dua pihak. ‘Skenario’ setelah itu memberikan kesan bahwa kamera kembali berada dibelakang kita menyorot pihak yang berbicara, yang muncul dilayar adalah close-up wajah pihak yang menuturkan cerita, si penutur seolah-olah berpindah dihadapan untuk menjelaskan kekuasaan Tuhan, ‘jika kamu mengeraskan ucapan, maka sesungguhnya Dia..‘, artinya kita sedang diberitahu ‘face to face’ oleh sesuatu yang bertutur tentang Dia yang ada disana yang mengetahui segalanya, memberitahukan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia yang mengetahui isi hati kita tersebut, menyatakan bahwa Dia memiliki nama-nama yang indah untuk dipanggil. Perubahan posisi dari samping menjadi ke depan dengan kondisi ‘close-up’ menciptakan kesan si penuturnya meminta kita untuk fokus terhadap apa yang diinformasikan, sebagai suatu ‘kesimpulan’ dari rangkaian cerita dari awalnya. Ini diibaratkan ketika kita mau mengajarkan seseorang dan mengharapkan agar dia fokus memperhatikan apa yang disampaikan, kita lalu mengambil posisi berhadapan dengan dia, duduk dalam jarak yang dekat, mata ketemu mata, sehingga situasi di sekeliling tidak bisa mengganggu konsentrasi  orang tersebut, maka pesan bisa sampai dengan sempurna.

Demikian kondisi kebathinan seorang pembaca surat Thaha 2-8, ibarat menonton bioskop, skenario yang dibuat adalah bersifat interaktif. Penonton tidak duduk di kursi menonton dialog linier sambil makan popcorn dan minum coca-cola, melihat layar, tembak-tembakan, kebut-kebutan. Kita tidak terlibat dengan hanya duduk mendengar dialog si A bicara kepada si B, lalu si B menjawab si A. Setelah film selesai diputar, maka urusan juga selesai tanpa kesan berarti. Adegan film tinggal adegan film, kita sama sekali tidak ada urusan dengan segala aksi yang terjadi karena tugas kita hanya menonton. Sebaliknya ‘skenario’ Al-Qur’an yang merubah-ubah kata ganti, membuat si pembacanya menjadi masuk dan ikut terlibat kedalam apa yang dibaca, menyerap pesan nyang disampaikan seolah-olah mendapatkannya karena kita ikut terlibat didalamnya.

Ada cerita menarik dari Komaruddin Hidayat, mengisahkan tentang temannya, seorang Profesor di universitas McGill, Montreal, Canada yang telah masuk Islam. Profesor tersebut mengemukakan pendapatnya tentang Al-Qur’an : “Jika saya membaca buku-buku teori akademis, cukuplah seminggu persiapannya dan saya akan bisa menjelaskannya di depan mahasiswa saya 80% dari kandungan buku tersebut. Kalau saya membaca buku novel, maka cukuplah sekali saja, sudah malas untuk membaca kedua kalinya. Buku-buku ilmiah itu logikanya linier, runtut, mudah diikuti uraiannya, dengan metode ‘speed reading’ sebuah buku tebal bisa tamat dibaca hanya dalam waktu sehari. Namun ketika saya membaca Al-Qur’an, saya menemukan gaya penuturan yang sangat kompleks, adakalanya linier, lalu memutar balik, dan kalau dicermati saling berhubungan membentuk jaringan makna. Sekalipun saya membaca ayat yang sama seperti yang saya baca kemaren, saya menemukan adanya perbedaan kesan dan rasa”.

Kesan yang sama juga dikemukakan oleh Prof. Jeffrey Lang, ketika dia pertama kali berinterkasi dengan Al-Qur’an :

Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka.

“Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius. Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’,” ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

»»  Continue Read . . . . .

Jilbab dan Ghamis, Sekali Lagi . . . Jangan Anggap Remeh Memakai Simboll !!


Pertanyaan sering diajukan tentang model pakaian dan atribut laki-laki yang mewakili nilai-nilai Islam :”Pakaian seperti apa yang bisa dikatakan sebagai pakaian Muslim..??”. Sebagian memakai ghamis Arab lengkap dengan ‘keffiyeh’ menutup kepala, lalu mereka merasakan diri sudah memakai pakaian Muslim. Yang lain pakai baju Yaman atau model mujahidin Afganistan, lalu menganggap itulah pakaian ‘ala’ Islam. Ada lagi yang pakai baju Pakistani, atau model baju Maroko yang sering dipakai oleh ustadz Jeffry (Uje), itu juga dikatakan model yang Islami. Yang ‘made in dalam negeri’ juga tidak ketinggalan, baju koko lengkap dengan sarung dan kopiah, bisa berwarna hitam atau putih., padahal baju koko sejatinya berasal dari Cina, sama sekali tidak ada urusannya dengan Islam. Bahkan saya pernah menemukan pakaian Islam kombinasi baju ghamis dengan sarung dan kopiah di kepala, saya sampai meledek dengan menjulukinya model ‘nuwahabi’ alias campuran gaya nahdiyin dengan wahabi. Kalau dalam pernak-pernik ajaran kedua kelompok ini sering berseberangan, ternyata dalam model pakaian malah bisa akur.

Semua model pakaian tersebut dalam batas-batas tertentu dianggap masyarakat umum mewakili cara berpakaian yang Islami, sekalipun tidak tepat. Orang Arab memakai baju ghamis karena baju tersebut memang merupakan produk budaya Arab, jadi Arab Muslim, Kristen, bahkan atheis sekalipun pakai baju tersebut. Karena merupakan baju orang Arab, maka semua lapisan masyarakat Arab menjadikan ghamis sebagai baju mereka, tidak peduli ulama, pejabat, tukang copet, pemerkosa, semuanya akan mengatakan ghamis adalah baju mereka. Namun di Indonesia dan mungkin juga di beberapa negara non-Arab, ghamis sudah kadung dilekatkan dengan Islam, mungkin karena persepsi yang muncul dalam masyarakat kita Islam adalah Arab, maka model pakaian mereka juga ikut-ikutan memuat nilai Islam. ‘Keffiyeh’ buat sementara orang dianggap mewakili gaya pejuang Palestina, dan karena Palestina, maka itu adalah simbol Islam, padahal duta besar palestina di Indonesia, Fariz Mehdawi, pernah menyatakan 50% penduduk Palestina sebenarnya adalah orang Yahudi. Namun ini juga tidak masalah, persepsi masyarakat umum di Indonesia tersebut sudah melekatkan nilai Islami terhadap baju ghamis atau keffiyeh, maka seseorang yang mengenakannya pasti punya niat untuk menunjukkan diri sebagai seorang Muslim. Demikian juga dengan baju model lain, mulai dari Pakistani, Maroko, sampai ke baju koko, sarung dan kopiah. Sepanjang di wilayah tersebut hidup persepsi yang sama tentang model suatu pakaian dan terkait dengan nilai Islam, maka si pemakainya akan dikatakan berusaha menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim.

Bisa jadi suatu waktu, karena sudah banyaknya orang-orang non-Muslim yang memakai pakaian yang selama ini melekat nilai-nilai Islam, lalu persepsi masyarakat berubah, tidak lagi menyatakan misalnya ghamis bukan lagi mewakili nilai-nilai Islam karena orang-orang Arab mayoritas sudah murtad dan kafir, sehingga dalam masyarakat terbentuk persepsi ghamis adalah simbol kekafiran, maka umat Islam tidak akan lagi memakai ghamis untuk menunjukkan dirinya sebagai Muslim, mereka akan mencari simbol lain yang masih dianggap melekat nilai-nilai Islaminya. Bisa juga ada kemungkinan, pakaian model lain yang dulunya dianggap mewakili kekafiran, kemaksiatan dan budaya non-Muslim, seperti jas dan dasi, lalu dengan banyaknya orang Eropah dan Amerika yang beralih memeluk Islam sehingga menjadi mayoritas, maka persepsi masyarakat umum terbentuk dengan mengatakan jas dan dasi sudah menjadi simbol-simbol yang Islami, maka orang yang ingin menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim akan memakai pakaian tersebut.

Semua yang saya sebutkan diatas adalah tentang simbol-simbol Islam melalui pakaian dan asesorisnya, terbentuk dari persepsi masyarakat, bisa berubah-ubah, bisa berbeda antara satu negara dengan negara lain, bisa juga berubah sesuai perkembangan jaman. Umat Islam banyak yang memakai simbol-simbol tersebut untuk menyatakan identitasnya sebagai seorang Muslim, dengan tujuan agar ketika memakainya ada pengaruh positif yang muncul untuk mengidentifikasikan diri sebagai seorang Muslim, lalu mengatur perilakunya sesuai ajaran Islam, minimal selama dia memakai simbol-simbol tersebut. Anda sebenarnya bisa mencoba bagaimana pengaruh pakaian ini bekerja. Silahkan suatu waktu anda memakai pakaian yang dipersepsikan oleh masyarakat sekeliling mengandung nilai-nilai kebebasan, urakan dan cuek, maka perilaku anda juga akan terdorong untuk melakukan gaya yang sesuai nilai yang dilekatkan masyarakat terhadap pakaian anda. Anda pakai model baju Michael Jackson, maka anda berusaha untuk bergerak lincah, kalau perlu sering pakai gaya jalan ‘moonwalk’. Tahun 80’an orang banyak yang memakai simbol pakaian model John Travolta, maka kelakuannya juga meniru gaya slengek’an seperti yang diperagakannya dalam film ‘Grease’. Dulu di Indonesia terkenal model Lupus, tokoh cerpen anak muda, dengan gaya cuek pakai permen karet ditiup, maka anak muda yang memakai simbol-simbol tersebut juga berusaha mengidentifikasikan diri untuk berlagak cuek, sekalipun banyak yang kurang pas sehingga malah terkesan tengik. Yang ingin saya sampaikan, pemakaian simbol berupa model pakaian dan asesorisnya punya pengaruh terhadap perilaku orang yang memakainya karena adanya kesamaan persepsi dengan masyarakat disekeliling terhadap nilai yang dikandung oleh simbol tersebut.

Sekarang kita telusuri bagaimana Islam mengajarkan tentang pemakaian simbol-simbol ini…
Allah dalam Al-Qur’an menyinggung soal simbol ini dalam perintahnya tentang kewajiban wanita Muslim untuk memakai jilbab :

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ‪(Al-Ahzaab: 59)
 
Saya tidak bermaksud membahas perbedaan pendapat ulama tentang jilbab, terkait apakah bagian wajah termasuk bagian tubuh wanita yang harus ditutup, sebagian ulama menyatakan harus dan sebagian lainnya mengatakan tidak termasuk. Yang jelas perintah untuk memakai simbol yang bernama jilbab memang ada dalam Al-Qur’an. Menariknya, Allah memberikan salah satu alasan mengapa Dia mewajibkan wanita muslimah untuk memakai jilbab dengan alasan ‘lebih mudah untuk dikenal’. Disini Allah sebenarnya bicara soal simbol, sesuatu penampilan yang mengandung nilai Islami yang membedakan si pemakainya dengan wanita yang tidak memakainya. Disini Allah dengan jelas telah menetapkan pakaian yang berbentuk jilbab telah dilekatkan-Nya dengan nilai-nilai Islam, ini bukan lagi persepsi yang dibentuk oleh masyarakat umum, berbeda halnya dengan baju ghamis, sarung, sorban, baju koko, persepsi masyarakat justru terbentuk setelah adanya perintah Allah ini. Dengan memakai jilbab, maka muslimah tersebut menyatakan dirinya sebagai seorang Muslimah, dan karena simbol-simbol yang dipakai berinteraksi dengan si pemakainya, maka dalam diri Muslimah tersebut muncul dorongan untuk memakai nilai-nilai Islam, serta berusaha menghindari dari tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut, minimal selama dia memakai jilbab. Allah mengetahui bahwa perilaku manusia bisa dipengaruhi oleh simbol yang saat itu dia kenakan.

Mungkin anda akan bertanya :”Seperti halnya baju ghamis, jas dan dasi, celana jeans dan kaos, apakah persepsi terhadap jilbab bisa berubah..?? suatu saat ketika banyak non-Muslim yang memakai jilbab dan berkelakuan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, lalu masyarakat punya persepsi jilbab bukan lagi terkait dengan nilai Islam, bukankah itu bisa terjadi..?”. Tentu saja secara logika hal tersebut bisa saja terjadi. Sekarangpun usaha orang untuk memisahkan jilbab dari nilai-nilai Islam sudah banyak dilakukan, baik yang terjadi dikalangan Muslimah sendiri yang tidak menjaga kelakuannya ketika memakai jilbab, maupun pihak lain yang memang sengaja mau merusak dan memisahkan nilai Islam dari jilbab. Kita dengan gampang menemukan banyaknya beredar video porno dengan pelakunya wanita memakai jilbab, atau juga foto-foto memuat model perempuan memakai jilbab dengan gaya yang seronok. Ini semua jelas mengarah kepada usaha untuk memisahkan jilbab dengan nilai yang dimuatnya sesuai apa yang telah ditetapkan Allah dalam Al-Qur’an. Lalu apakah kemudian persepsi kita menjadi berubah ketika melihat seorang Muslimah memakai jilbab..? (maksud saya adalah jilbab yang benar-benar jilbab, bukan apa yang disebut orang sekarang sebagai ‘jilbab trendy’, pakai kerudung tapi pantat megal-megol memakai jeans ketat).

Persepsi tersebut tetap ada, bahwa dalam penampilan Muslimah tersebut tetap muncul nilai-nilai Islami, sekalipun mungkin sebelumnya kita sudah menonton video porno yang memperlihatkan adegan cewek memakai jilbab lagi beraksi. Allah sudah menetapkan suatu bentuk dan batasan cara berpakaian, maka persepsi kita tidak akan berubah dari apa yang telah ditetapkan Allah tersebut. Kalau anda masih penasaran lalu bertanya :”Bagaimana kalau perilaku kemaksiatan dengan memakai jilbab makin mewabah, apakah tidak akan mempengaruhi persepsi masyarakat lalu berubah menjadikan jilbab sebagai simbol kemaksiatan..??”. Untuk pertanyaan berandai-andai ini, kita bisa memberikan jawaban :”Keimanan saya tidak bisa menerima kemungkinan itu, apa yang sudah ditetapkan Allah akan berlaku sampai akhir jaman. Jadi silahkan saja dicoba terus untuk memisahkan nilai Islam dari jilbab, dan habiskan umur anda untuk itu..”. Sebagai seorang Muslim itulah sikap yang paling aman untuk diambil, kalau tidak, misalnya anda meragukannya karena kemungkinan tersebut masuk akal anda, anda lalu menunggu terjadinya perubahan persepsi, ketika anda mati dan ternyata perubahan tersebut tidak juga terjadi, anda akan tercatat mati sebagai seorang Muslim yang meragukan ketetapan Allah yang jelas tercantum dalam Al-Qur’an, anda tahu sendiri apa namanya orang yang mati dalam keadaan demikian..

Selain Al-Qur’an, Islam juga bicara soal simbol melalui hadits. Kita menemukan sekurang-kurangnya 8 jalur periwayatan hadits yang berbicara tentang memelihara jenggot. Intinya hadist tersebut berbunyi :

Dari Ibnu Umar r.a., Rosul -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: Selisihilah kaum musyrikin, biarkanlah jenggot kalian panjang, dan potong tipislah kumis kalian! (HR. Bukhori: 5892)

Terdapat beberapa redaksi tentang hadits ini, namun semuanya memuat soal kata : (1) Selisihilah/bedakanlah diri kalian (2) memelihara jenggot (3) mencukur kumis. Secara logika bunyi hadist ini agak aneh, pertanyaannya adalah :”Apakah Rasulullah tidak tahu bahwa tidak semua laki-laki mempunya ‘bakat’ tumbuh jenggot dan kumis..??”. Kita tentu tidak punya pikiran bahwa nabi Muhammad SAW, yang setiap perkataan dan perbuatannya selalu dalam bimbingan Allah, tidak mengerti apa-apa soal tersebut. Namun perhatikanlah sekali lagi bunyi haditsnya lalu dikaitkan dengan sebab mengapa Rasulullah memerintahkannya. Dalam periwayatan melalui jalur lain dicatat bahwa ucapan ini adalah untuk menjawab pertanyaan para sahabat :

Dari Abu Umamah: …lalu kami (para sahabat) pun menanyakan: “Wahai Rosululoh, sungguh kaum ahli kitab itu (biasa) memangkas jenggot mereka dan memanjangkan kumis mereka?”. (HR. Ahmad: 21780, dihasankan oleh Albani, dan dishohihkan oleh Muhaqqiq Musnad Ahmad, lihat Musnad Ahmad 36/613)

Jadi inti dari ajaran Rasulullah soal ini terletak kepada kata ‘selisihilah/bedakan diri kalian dengan kaum musyrik’, dan disebabkan ciri-ciri yang disampaikan pada waktu itu adalah soal jenggot dan kumis maka cara untuk membedakan diri adalah dengan membuat penampilan yang bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh kaum musyrik.

Persepsi pada waktu itu terhadap jenggot dan kumis sudah terbentuk sesuai pengelompokan masyarakat terkait dengan ajaran agama. Disini Rasulullah bicara soal simbol, sama dengan apa yang terjadi dalam ayat Al-Qur’an tentang jilbab. Rasulullah dengan ucapannya membentuk persepsi baru terhadap simbol jenggot dan kumis dengan cara membalikkannya lalu mencantelkan nilai-nilai Islam disitu. Setelah itu persepsi masyarakat terbentuk berdasarkan ajaran yang beliau berikan sampai sekarang. Pertanyaan yang sama akan muncul :”Apakah tidak mungkin suatu ketika laki-laki non-Muslim juga ikut-ikutan memelihara jenggot dan mencukur kumis persis seperti umat Islam, sehingga persepsi tersebut berubah, jenggot tidak lagi terkait dengan nilai-nilai Islam..?? Saat ini banyak ditemukan, rabi Yahudi juga banyak yang memakai jenggot, orang Kristen ortodoks memakai jenggot, kaum Amish di Amerika Serikat juga memakai jenggot yang mirip dengan ciri-ciri umat Islam, bahkan anak band ‘rock and roll’ juga memakai jenggot. Jawabannya tentu saja mungkin terjadi. Karena hal ini berdasarkan ucapan Rasulullah maka melekatnya nilai kepada simbol tidak bersifat mutlak sebagaimana halnya jilbab yang didasari ayat Al-Qur’an. Selain itu ajaran Rasulullah ini merupakan reaksi terhadap penampilan non-Muslim pada waktu itu, disamping yang saya kemukakan sebelumnya, tidak semua laki-laki memiliki ‘bakat’ berjenggot. Namun jangan karena dianggap sesuatu yang terkait konteks jaman dulu yang mungkin saja tidak bisa diterapkan sekarang, lalu ajaran beliau ini dianggap sudah tidak berlaku dan kedaluarsa. Seharusnya kita mengambil esensinya, yaitu soal ‘nyatakan dirimu berbeda dengan kemusyrikan dan kekafiran’, sarananya bisa memakai apa saja, ketika suatu simbol dalam masyarakat dipersepsikan mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam, jauhilah.., pakailah simbol yang mewakili nilai Islam.

Jangan bersikap :”Apa yang dipakai tidak penting, yang penting hatinya..”, lalu dilengkapi lagi dengan argumentasi berdasarkan ayat Al-Qur’an :”Yang membedakan antara satu manusia dengan manusia lain adalah ketaqwaannya..”. Tentu saja dimata Allah ketaqwaan merupakan kriteria untuk menilai seseorang sebagai ‘hasil akhir’ dari setiap perbuatan dan ucapannya yang nyata. Kita jangan memakai alasan ini untuk mengabaikan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Memakai simbol-simbol yang memuat nilai Islami dan menjauhi yang bertentangan dengan nilai Islam juga diwasiatkan oleh beliau. Kalau urusan hanya soal ketaqwaan lalu buat apa Allah memerintahkan kaum Muslimah untuk memakai jilbab dengan alasan ‘agar lebih mudah untuk dikenali’..?? Bagaimana mungkin seorang manusia bisa mengenali orang lain dari tingkat ketaqwaan yang tersimpan rapat dalam hati dan hanya Allah yang tahu..?? Kalau nilai seorang manusia semata-mata berdasarkan ketaqwaannya dan dilepaskan dengan perilaku dan ucapan yang terlihat oleh orang lain, memakai jilbab tidak perlu diperintahkan Allah, itu logikanya..

Lalu mengapa ajaran Islam sangat serius berbicara soal pemakaian simbol ini..?? sampai-sampai tercantum dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah..??. Jawabannya : karena pada dasarnya manusia tidak bisa dilepaskan dari memakai simbol, anda membuang ghamis, sarung dan kopiah lalu menggantinya dengan jas dan dasi, artinya anda membuang suatu simbol dan beralih memakai simbol lain. Bahkan ketika anda telanjang bulat tidak memakai apapun, itu juga merupakan simbol dari nudisme. Disitu Islam mengajarkan, karena kita tidak punya pilihan lain terkait dengan simbol ini maka Allah dan Rasul-Nya memberikan kita simbol untuk dipakai, memberikan ajaran bahwa setiap umat Islam harus memilih simbol yang menggambarkan nilai-nilai Islam, yang berbeda dengan nilai-nilai yang bukan Islam.

Jadi sekali lagi, jangan anggap remeh soal memakai simbol dengan mengatakan :”Ah….pakai atribut Islam nggak menjamin juga, orangnya tetap saja bisa berkelakuan ngawur..”. Pakailah simbol-simbol yang dipersepsikan masyarakat mengandung nilai-nilai Islam, jadikan simbol tersebut untuk memunculkan dorongan positif dalam diri anda untuk mengimplementasikan nilai-nilai Islam, sehingga perilaku anda bisa diarahkan sesuai nilai Islam yang terdapat dalam simbol tersebut.

»»  Continue Read . . . . .

Contoh-Contoh Pribadi Tawhid Dalam Sejarah Islam


Agama Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW telah disebarkan ke seluruh pelosok dunia yang sudah mempunyai kebudayaan yang tinggi ketika itu, terutama jika dibandingkan dengan kebudayaan bangsa Arab Quraisy sendiri. Oleh karena itu, banyak di antara bangsa-bangsa ini, yang biasa menganggap enteng terhadap bangsa gurun pasir ini, tertegun dan tidak percaya atas kenyataan, bahwa bangsa, yang selalu dianggap mereka primitif ini, kok tiba-tiba berani menantang mereka.

Raja Parsi, Kusro umpamanya, telah merobek-robek surat RasuluLlah yang mengundangnya untuk menerima ajaran Islam. Raja ini merasa terhina karena surat yang datang dari seorang "bekas gembala" itu dianggapnya lancang sekali telah berani mengajarinya tentang kebenaran, padahal ia seorang kaisar penakluk dunia. Maka raja ini tidak sudi mengakui perbatasan antara negerinya dengan jazirah Arab, yang ketika itu sudah menjadi Islam sebelum wafatnya RasuluLlah. Oleh karena itu daerah perbatasan ini sering mercka ganggu dan langgar kedaulatannya.

1. Khalid bin Walid Yang Tak Terkalahkan

Ketika panglima Khalid bin Walid dikirim khalifah Abubakar Shiddik, dan berhasil mengusir bangsa Parsi ini keluar perbatasan, mereka masih terus-menerus kembali lagi. Maka atas usul Khalid, khalifah Abubakar mengirim bantuan lasykar lagi ke perbatasan itu, sehingga mencapai sepuluh ribu orang. Panglima Hurmuzan dan Parsi lengkap dengan barisan bergajah mereka dengan pongahnya mencoba menghadang pasukan Khalid bin Walid ini, dengan tentara sebanyak lebih dari seratus ribu. Khalid memulai serangannya dengan mengirimkan surat lebih dahulu. Dalam surat itu ia menawarkan tiga pilihan:

  1. Damai, dengan syarat masing-masing menghormati perbatasan negara yang ada.
  2. Menerima ajaran Islam, yang akan menjalin ukhuwah Islamiyah antara kedua rakyat yang ada. Maka tidak akan ada soal perbatasan lagi.
  3. Jika kedua pilihan itu tak bisa diterima, maka bersiaplah kalian menghadapi kami yang datang dengan lasykar yang berani hidup, namun ingin mati (syahid) karena kerinduan mereka kepada Allah.
Dengan persyaratan yang tertulis di surat itu, Hurmuzan telah mengalami goncangan jiwa (psychological shock) yang dahsyat, karena bagi mereka tidak pernah ada istilah "ingin mati". Namun karena kesombongan bangsa ini terhadap bangsa Arab yang mereka anggap masih terbelakang itu mereka memilih tawaran untuk perang, apalagi setelah melihat perlengkapan barisan Muslim ketika itu paling tinggi hanyalah panah dan kenderaan mereka pun paling cepat hanyalah kuda. Kuda itu pun terbatas bagi perwira menengah ke atas, sedangkan kebanyakan anggota lasykar Muslim ketika itu hanyalah berjalan kaki atau berkendara unta. "Apakah kuda sanggup berhadapan dengan gajah yang kuat ini?" Demikian pikir panglima Parsi yang sombong itu.

Khalid mengerahkan barisan Muslimin maju menyerbu di bawah pimpinannya sendiri yang berpacu di depan. Dengan mengendarai kudanya yang berlari cepat Khalid menerobos barisan musuh yang paling lebal sambil mengayunkan pedangnya ke kiri ke kanan menebas batang leher serdadu musuh, sehingga terbentuk jalur mayat manusia yang bergelimpangan akibat tebasan pedang Khalid. Ketika jalur mayat ini bergerak terus mcnuju ke tempat panglima Hurmuzan, maka serdadu Parsi menjadi panik. Serbuan Khalid serasa tak terhankan mereka. Mereka lari porak poranda kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya banyak yang menyerahkan diri kepada Khalid.

Tentara Parsi yang menyerah itu diperlakukan Khalid dengan wajar dan baik, sebagaimana layaknya sesuai dengan contoh dan ajaran Rasulullah SAW. Walaupun sudah menyerah, harta benda mereka tidak diambil atau dirusakkan, bahkan tentara yang tadinya buruh tani yang tidak pernah punya tanah itu diberi hak untuk mempunyai tanah sesuai dengan kemampuan mereka menggarapnya, maka mereka pun berbondong-bondong masuk Islam.

Walaupun sebahagian lasykar Muslim syahid dalam penyerbuan pertama itu, namun jumlah anggota barisan Khalid bukan berkurang, bahkan bertambah, karena lasykar Parsi yang menerima Islam sebagai agama mereka yang baru langsung bergabung dengan barisan Khalid. Melihat kemenangan yang relatif sangat cepat diperoleh ini, maka Khalid, sesudah mendapat izin dari Khalifah Abubakar menyerbu terus ke dalam daerah Parsi, sehingga seluruh negeri itu takluk dalam waktu yang relatif sangat singkat. Khalid berangkat dari Madinah untuk tugas ini pada awal bulan Muharram, dan seluruh kerajaan Parsi takluk di bawah kekuasaan ummat Islam pada akhir bulan Zulqaidah, tahun yang sama. Jadi, dalam waktu kira-kira sebelas bulan sebuah kerajaan yang pada masa itu dianggap sebagai negara superpower kedua sesudah Romawi telah takluk kepada kaum Muslimin yang memperkenalkan dan menghormati hak-hak asasi manusia.

Ketika salah seorang sahabatnya mengingatkan Khalid, bahwa besok akan masuk bulan Zulhijjah, maka Khalid merasakan kerinduan menusuk hatinya akan baituLlah. Khalid memutuskan, bahwa ia harus naik haji, maka ia segera memilih beberapa ekor kuda yang tercepat dan dengan iringan beberapa sahabatnya ia segera berderap pulang ke Makkah untuk mengejar waktu demi melaksanakan haji dengan meninggalkan daerah kerajaan Parsi yang baru saja ditaklukannya itu.

Ketika khalifah Abubakar mendapat laporan akan kemenangan Khalid yang gemilang ini ditambah pula oleh kecerobohan Khalid meningglkan medan sebelum sempat mengadakan pengamanan seperlunya, maka beliau menulis surat teguran kepada panglimanya yang gagah perkasa ini.

Khalifah menulis: "Disamping rasa syukurku kepada Allah SWT dan tanpa mengurangi rasa hormatku atas keteguhan iman dan kecintaanmu kepada Allah, aku wajib memperingatkan engkau, bahwa meninggalkan medan sebelum mengadakan pengamanan seperlunya bukanlah tindakan seorang panglima yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, kami perintahkan agar engkau pulang ke posmu secepat-cepatnya." Sadar akan kesalahannya ini, Khalid segera melaksanakan perintah khalifah itu sesudah menyelesaikan ibadah hajinya dan melakukan tawaf wada'.


2. Umar bin Khathab Penyelamat Tawhidnya Ummat
Ketika pasukan Islam di front Romawi Timur membutuhkan tambahan bantuan menghadapi tentara Romawi yang sangat canggih persenjataannya, maka khalifah Abubakar memanggil Khalid agar pulang meninggalkan kursi dan pergi memperkuat front menghadapi Romawi ini. Khalid kemudian mengambil kebijakan, sesudah disetujui Abubakar, langsung saja menuju ke Barat ke arah Jerusalam tanpa pulang dahulu ke Madinah. Untuk itu Khalid harus menaklukkan negeri-negeri yang terletak antara Parsi dan Romawi Timur itu.

Negeri-negeri ini ternyata dapat ditaklukkan Khalid satu per satu dalam waktu relatif singkat. Maka nama Khalid bin Walid sebagai penakluk yang gagah perkasa dan pahlawan yang tak terkalahkan menjadi tersiar ke mana- mana. Anak-anak muda di Madinah pun mulai menyanyikan sya'ir-sya'ir yang memuji-muji kepahlawanan dan kegagahan panglima Khalid ini. Sementara itu khalifah Abubakar wafat dan digantikan oleh Umar bin Khathab.
Sesampainya Khalid di front Romawi, maka ia mengusulkan agar diadakan rapat pimpinan mengatur strategy menaklukkan tentara Romawi Timur yang canggih itu.

Ketika Khalid sedang memimpin rapat strategy ini sampailah utusan dari Madinah membawakan surat dari khalifah 'Umar, yang ditujukan kepada panglima Khalid. Surat itu dibaca Khalid, kemudian dilipat dan dimasukkannya ke dalam kantongnya dan ia meneruskan rapat penting itu. Ternyata surat itu berisi pemberhentian Khalid sebagai panglima dan perintah agar menyerahkan pimpinan kepada bawahannya. Khalid tidak membacakan surat itu kepada hadlirin ketika itu, demi menjaga agar mereka jangan sampai resah. Seusai memimpin rapat itu, besoknya Khalid masih memimpin penyerangan perdana terhadap front Romawi ini. Ketika dilihatnya panglima bawahannya sudah mampu melanjutkan perjuangan dengan strategy yang telah digariskan itu, maka pimpinan diserahkannya, dan ia pun langsung pulang ke Madinah menemui khalifah Umar.

Sesampainya Khalid di Madinah, maka ia langsung menemui khalifah 'Umar dan menanyakan apa gerangan alasan maka ia diberhentikan tiba-tiba. Apakah karena kekurang fahamannya tentang urusan keuangan?
"Aku harus mengakui kekuranganku dalam mengurus buku keuangan ini, namun aku bersumpah dengan nama Allah, bahwa aku tak pernah mengambil satu sen pun dari dana yang disediakan oleh negara, bahkan uang pribadiku banyak yang kusumbangkan untuk perjuangan ini," katanya kepada 'Umar. 
"Aku yakin sungguh akan kejujuran dan keikhlasanmu, wahai saudaraku, sehingga aku tidak pernah merasa curiga akan manajemen dana perjuangan ini, walaupun aku yakin, bahwa sebagai panglima engkau tetap merupakan penanggung jawab terakhir terhadap manajemen dana ini."
"Lantas, mengapa sampai aku dipecat tanpa alasan yang tepat?" Tukas Khalid dengan suara yang agak tajam.
'Umar menatap muka Khalid dan berkata: "Aku sekadar melakukan tugasku menyelamatkan tawhidnya ummat. Engkau adalah panglima yang gagah perkasa, dan RasuluLlah SAW sendiri yang telah mengangkatmu memegang jabatanmu itu. Sejak itu engkau belum pernah terkalahkan di setiap medan pertempuran, sehingga rakyat sudah mulai menyanyikan lagu-lagu yang memuji dan memuja namamu di samping memuji Allah SWT. Aku takut hal ini akan berkembang menjadi keyakinan seolah-olah Engkaulah satu-satunya yang sanggup memenangkan seluruh perjuangan ini dengan atau tanpa syafa'at Allah SWT. Bukankah dengan demikian mereka menjadi musyrikin? Maka aku ingin buktikan kepada mereka, bahwa 'Umar, hamba Allah yang lemah dan hina ini, telah sanggup menjatuhkan engkau panglima yang gagah perkasa. Dengan demikian kuharap mereka kembali memuji dan memuja hanya Allah SWT."
Mendengar keterangan 'Umar yang tegas menegakkan tawhid itu Khalid menerima kebijakan khalifah yang 'arif itu dengan ikhlash. Maka besoknya ia kembali ke medan perang membantu rekan-rekannya yang sedang mati-matian di front Romawi Timur. Khalid maju di bawah pimpinan bekas bawahannya sebagai prajurit biasa. Ketika ditanyakan orang kepadanya mengapa ia terus juga berjuang sesudah dipecat oleh 'Umar sebagai panglima, maka Khalid menjawab tegas: "Aku berjuang bukan karena 'Umar, aku berjuang semata karena Allah SWT." Inilah contoh-contoh pribadi tawhid yang tulen.


Kuliah Tauhid
Ir. Muhammad 'Imaduddin 'Abdulrahim M.Sc.
Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB
Bandung, 1400H, 1980
Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2 1980
(Muhammad 'Imaduddin 'AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993
SUMBER 
»»  Continue Read . . . . .